Oleh: Eko Santosa
Perbedaan adalah keniscayaan. Umat manusia semestinya
merayakan perbedaan ini. Tidak perlu paksaan atau pemaksaan untuk mempersamakan,
karena memang perbedaan itu nyata dan mesti diterima. Manusia yang tinggal di
gunung berbeda budaya dengan yang tinggal di pesisir dan yang tinggal di kota
berbeda gaya hidup dengan yang tinggal di desa. Sementara di sisi lain, semua
orang harus pula menerima pandangan bahwa semua manusia adalah sama, sama-sama
makhluk yang tinggal di dunia. Jadi, pada satu sisi perbedaan adalah keniscayaan
dan di sisi lain seluruh manusia adalah sama. Satu kondisi yang cukup membingungkan.
Rupa-rupanya keberbedaan dan kebersamaan ini dapat diulik melalui
mazhab pemikiran evolusionis dan difusionis dalam antropologi. Ryzard Kapuscinski
(2012) menjelaskan bahwa dua hal yang saling bertentangan tersebut sejatinya
tetap eksis hingga hari ini meskipun dengan nama atau penyebutan yang
berbeda-beda. Selanjutnya, Kapuscinski menjelaskan bahwa kaum evolusionis berkeyakinan
bahwa perjalanan hidup semua manusia akan mengarah pada kemajuan. Manusia akan
berkembang mulai dari tingkat paling primitif hingga sampai tingkat tertinggi
dan beradab. Atas dasar pendapat ini, maka semua manusia akan mengalami
perkembangan kemajuan yang sama. Hanya soal waktu yang membedakan, namun pada akhrinya
yang tertinggal akan mengikuti jejak yang sudah maju. Kaum evolusionis juga meyakini
adanya kesatuan psikologis umat manusia. Oleh karenanya, kesatuan dan perpaduan
umat manusia adalah niscaya sebagaimana halnya sebuah keluarga. Semuanya adalah
warga dunia sehingga setiap orang adalah sama. Secara gamblang, kaum evolusionis
merupakan globalis (Kapuscinski, 2012: 39).
Sementara itu, kaum difusionis berpendapat bahwa berbagai
macam peradaban dan budaya telah ada dan akan tetap ada di dunia ini.
Perkembangan ragam budaya ini bergantung pada tempat dan waktu yang mana pada
saatnya saling berkontak sehingga terjadilah peleburan, penggabungan, dan pertukaran
satu sama lain. Kaum difusionis menghargai keberbedaan budaya dan perkembangannya
yang lahir atas peristiwa saling kontak semacam ini. Secara gamblang, kaum difusionis
merupakan anti-globalis karena mereka memandang orang lain (the other)
bukan sebagai masyarakat manusia yang homogen dan identik. Oleh karena itu, manusia
sebagai masyarakat dunia memiliki keberbedaan, multi-warna, multi-bahasa, dan
masing-masing kelompok hidup terpisah dan menentukan jalan perkembangannya
sendiri-sendiri (Kapuscinski, 2012:40).
Eksistensi dua mazhab ini, jika diamati memang mengitari
kehidupan manusia dewasa ini. Satu sisi keberbedaan memiliki nilai tinggi yang
mesti dijunjung, namun di sisi lain kemajuan global mesti pula diamini. Analogi
paling gampang untuk kondisi ini adalah; suku bangsa yang berbeda, bahasa yang berbeda,
norma budaya yang berbeda namun menggunakan satu perangkat komunikasi yang sama
yaitu smartphone. Dalam pandangan manusia modern hingga hari ini, jika
ada masyarakat yang belum mengenal dan menggunakan smartphone, maka akan
disebut masyarakat tertinggal dan pada waktunya (dengan rayuan teknologi,
psikologi, dan ekonomi) pasti akan menggunakan perangkat komunikasi yang sama.
Penyamaan atas nama kemajuan hidup dalam bidang apapun selalu
terjadi di tengah keberbedaan yang mesti dipelihara. Namun dalam bidang sains, penyamaan
ini tak terhindarkan, bahkan cenderung dipaksakan. Ilmu pengetahuan yang tak
bisa diukur secara sains modern dianggap tak sah dan oleh karenanya mesti
ditinggalkan. Apapun keyakinan dan kepercayaan manusia dewasa ini, pandangan
tentang bumi datar yang dilingkupi kubah langit mesti dkubur karena sains
modern menyatakan bahwa bumi bulat. Fritjof Capra, dalam Kearifan Tak Biasa (2002)
mencoba mengkritisi hal ini dengan menyatakan bahwa ilmu pengetahuan berdasar pengalaman
nyata yang dilakukan bertahun-tahun lebih sahih daripada ilmu pengetahuan yang
diperoleh di laboratorium. Ia menjelaskan bahwa pengetahuan mengenai
tanda-tanda alam tentang arah dan cuaca yang dimiliki oleh nelayan lebih berharga
daripada stasiun cuaca. Namun toh hal ini tetap saja tidak berlaku karena
masyarakat secara luas telah dibiasakan untuk lebih percaya kepada stasiun
cuaca, meskipun prediksinya sering meleset.
Hal yang sama dikeluhkan oleh Benjamin Franklin (dalam Naomi,
1998) mengenai pendidikan modern di mana ilmu pengetahuan yang diberikan di
kelas hanya memiliki satu pandangan dan mengesampingkan ilmu pengetahuan lokal seberguna
apapun ilmu lokal itu. Dalam tuturannya, Franklin menjelaskan bahwa anak-anak
Indian, pada abad 18, yang dikirim untuk bersekolah di kota dengan pendidikan
model Barat setelah kembali pulang ke desanya justru semakin bodoh karena mereka
sama sekali tidak bisa berlari, menahan dingin, bertahan dari serangan musuh,
menarikan tarian pemikat perempuan dan tidak bisa berburu. Artinya, anak-anak
tersebut tak bisa lagi bertahan dan melanjutkan hidup dengan cara Indian. Atas
kejadian tersebut, para kepala suku meminta pemerintah gantian mengirimkan anak-anak
kota untuk dididik cara hidup Indian. Namun tentu saja permintaan tersebut
tidak dikabulkan.
Dari keluh kesah Capra dan Franklin tersebut dapat sedikit
ditarik pelajaran bahwa memang ada gelombang globalisasi yang menempatkan
manusia dalam satu ikatan psikologis yang menyajikan perkembangan untuk
mengarah pada kemajuan yang sama. Tentu saja masih banyak contoh-contoh lain
mengenai hal ini. Namun intinya adalah, di antara keberbedaan yang mesti
dihargai dalam hidup ini, ada terdapat gelombang besar yang mengarahkan manusia
pada satu kemajuan yang sama. Pada akhirnya, sangat tergantung dari posisi
individu atau sekelompok manusia untuk berdifusi atau berevolusi atau mungkin ada
kesepakatan dan kesempatan tak terduga di mana keduanya dapat berjalan bersama-sama.(**)
WFH/O, 110221
Bacaan:
Capra,
Fritjof. 2002. Kearifan Tak Biasa Percakapan Dengan Orang-orang Luar Biasa.
Yogyakarta: Bentang Budaya.
Kapusciski,
Ryszard. 2012. The Other. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Naomi,
Omi Intan, Ed. 1998. Menggugat Pendidikan Fundamentalisme Konservatisme Liberal
Anarkis Paulo Freire Ival Illich Erich From Dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.