Selasa, 13 November 2018

EKSPRESI ARTISTIK DI ANTARA YANG MENETAP DAN MENCARI


Tinjauan Umum Gaya Pementasan Parade Teater Jawa Timur 2018

Oleh: Eko Santosa

(Artikel ini dimuat dengan judul, “Gaya Pementasan Parade Teater Jawa Timur 2018”, di Cak Durasim Majalah Seni Budaya Jawa Timur, Edisi 7 September 2018)

Parade Teater Jawa Timur diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 23-25 Agustus 2018. Selama 3 malam digelar 9 pementasan dari sanggar, komunitas atau perkumpulan teater di Jawa Timur dan salah satunya dari Sulawesi Tenggara. Ragam ekspresi artistik ditampilkan dalam agenda ini dan mampu menyedot animo masyarakat penggemar teater. Hampir setiap malam venue dipenuhi oleh penonton. Setiap penyajian memiliki daya tarik tersendiri untuk diapresiasi dan tulisan singkat ini merupakan tinjauan umum terhadap gaya pementasan dari seluruh penyaji Parade Teater Jawa Timur 2018. Tinajuan gaya ini menggunakan pandangan McTigue (1992) yang membagi gaya teater menjadi 3 besaran yaitu presentasional, representasional, dan pasca realis. Pementasan teater selalu saja memiliki hal-hal menarik untuk dicermati terutama keterkaitannya dengan budaya di mana teater itu tumbuh berkembang. Lev-Aladgem (dalam Santosa, 2014) menyatakan bahwa teater tidak pernah memiliki persepsi yang tetap dan stabil. Definisi teater selalu hanya bisa dibatasi oleh sosio-budaya dan selalu terbuka secara konsisten terhadap tantangan. Oleh karena itu, pemaknaan gaya dalam tinjauan ini juga mempertimbangkan kemungkinan keterlibatan sosio-budaya di mana teater itu tumbuh.

1.  Presentasional
Gaya presentasional dapat disejajarkan dengan gaya teater konvensional atau klasik. Gaya ini biasanya digunakan oleh teater tradisional di mana ciri utamanya adalah pertunjukan memang dipersembahkan kepada penonton sehingga tidak perlu dibangun dinding imajiner. Ciri lainnya adalah penggunaan kalimat dialog puitik. Teater Tombo Ati (TTA) dari Jombang menampilkan gaya ini melalui lakon “Wiruncana Murca”, sutradara Fandi Ahmad. Tata panggung, busana, dan musik ilustrasi menandakan kemewahan dari gaya ini. TTA cukup bagus dalam menyajikan lakon penggalan cerita Panji terutama ilustrasi musik yang mengena. Setiap sisi konvensi itu coba ditampilkan. Adegan pembuka dengan sesaji dan dalang, tarian awal dan akhir, dagelan hingga ke akhir lakon tersaji mulus. Komposisi tari, penggunaan kalimat dialog puitis, dan dagelan yang mengalir menjadi penanda kuatnya teater konvensional. Namun kekuatan konvensi ini sekaligus melemahkannya. TTA kurang mempertimbangkan durasi sehingga banyak adegan yang ditampilkan kurang efektif. Dalang yang keluar-masuk di dalam adegan pokok sebenarnya tidak terlalu diperlukan jika karakter Bancak dan Doyok bisa dibatasi secara ketat durasinya. Selain itu karakter dagelan juga sering menyela pada saat adegan krusial. Tentu saja hal ini menjadi masalah dalam durasi pendek. Sementara adegan-adegan penting justru diperingkas, misalnya adegan perang gagal, Wiruncana berguru serta prosesi sayembara hingga terbukanya diri pribadi sang Panji. Mengingat laku cerita yang tidak terlalu dramatik, peringkasan adegan ini menghilangkan daya klimaks lakon.

Dari sisi keaktoran yang cenderung tipikal (khas teater presentasional) semua berjalan seperti arahan. Torso, gestur, gestikulasi menjadi penanda akan hal ini. Namun sayang, penentuan posisi
three-quarter para aktor saat adu tangkas memanah justru melemahkan adegan krusial tersebut. Lain halnya jika posisi arah hadap one-quarter yang diambil sehingga ekspresi wajah dan torso aktor ketika memanah dapat disaksikan penonton (mengenai efektivitas penentuan arah hadap pemain dapat dilihat dalam, Snyder dan Drumsta, 1986). Jika saja durasi diperpanjang kemungkinan ekspresi artistik gaya presentasional dari TTA ini bisa lebih maksimal. Namun perlu juga dipetik satu kebijaksanaan bahwa tampil dalam parade atau festival semestinya berbeda dengan tampil dalam produksi mandiri. Untuk itu diperlukan kecermatan penyusunan adegan.

2.  Representasional
Istilah lain untuk representasional dan umum diketahui adalah realisme. Di dalam gaya ini, dinding imajiner sengaja diciptakan untuk memisahkan dunia penonton dan panggung. Aktor saling bermain di antara mereka dan dialog menggunakan bahasa sehari-hari untuk menambah kesan nyata. Teater Ganda Gong (TGG) Sulawesi Tenggara dan Teater Racun Tikus (TRT) STKW Surabaya menampilkan gaya ini dan menarik untuk dicermati. TGG hadir dengan cerita “Orang Pinggiran”, sebuah cerita sederhana tentang pertemanan, cinta segit tiga, dan akhir yang memilukan, disutradarai oleh Al Galih. Lakon ini disajikan secara bersahaja dengan menempati area panggung depan tengah dan komposisi triangular di mana fokus permainan mudah diperoleh (lih., Groote, 1997) sehingga memudahkan pengarahan. Memang seperti itulah yang terjadi, cerita mengalir melalui dialog para tokoh dan pesannya mudah ditangkap. Jika saja dialog para pemeran tak terucap patah-patah (seperti masih sedang menghafal teks), konflik tak tunggal, dan penyelesaian sedikit mengambil jalan melingkar (tidak langsung diputuskan membunuh antagonis), maka estetika drama realis dapat menemukan maknanya.

Selasa, 26 Juni 2018

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan

Oleh : Eko Santosa

(tulisan ini pernah diunggah secara berkala di www.whanidproject.com)



Pemeran atau aktor adalah elemen paling pokok dalam pertunjukan teater. Tanpanya pertunjukan tidak akan bisa dilangsungkan karena tidak ada apapun yang akan disaksikan oleh penonton. Aktor merupakan pewujud gagasan baik itu gagasan penulis lakon, konseptor pertunjukan, sutradara, dan bahkan gagasannya sendiri mengenai peran yang dimainkan. Kesanggupan dan kesungguhan aktor untuk mewujudkan gagasan-gagasan tersebut adalah keniscayaan. Ia harus mau dan rela berlatih keras, menjaga kebugaran, mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan untuk memainkan peran sesuai dengan tuntutan. Aktor dengan demikian adalah pekerja profesional. Ia tidak bisa sebagai sambilan atau hanya sekedar hobi. Jika hanya untuk bermain teater semua orang pasti bisa asalkan sesuai porsi kemampuan masing-masing, namun untuk menjadi aktor tidak semuanya bisa. Perumpamaan ini persis seperti halnya dengan semua orang bisa saja bermain bulu tangkis, namun sedikit orang yang bisa menjadi atlet bulutangkis. Sekali lagi, aktor adalah pekerjaan profesional.

Sebagai orang yang bergerak di bidang profesional, aktor akan menampilkan semua kemampuannya secara optimum dalam berperan. Sebagai hasilnya, ia akan mendapatkan applause penonton dan diakui kepiawaiannya. Ia akan mempesona semua yang menyaksikan. Akan tetapi karena pesona aktor yang begitu mengharu-biru, banyak orang menginginkan posisi ini. Namun yang terjadi bukan kesanggupan dan kemampuan untuk bekerja secara profesional melainkan jalan pintas untuk berperan di atas panggung. Banyak orang mengira bahwa berperan itu perkara yang tidak terlalu sulit dan memperoleh applause juga mudah didapatkan. Banyak dari mereka yang hanya mengandalkan fisik atau belajar secara hafalan. Memang pada akhirnya mereka bisa berperan namun jauh dari ukuran profesional. Dari proses semacam ini banyak lahir pemain tipikal yang hanya bisa memerankan tokoh dengan ciri tertentu. Apakah kemudian ia bukan merupakan aktor profesional? Tentu saja tidak. Ia tetap bisa dianggap sebagai aktor profesional selama memenuhi tuntutan pekerjaan yang diberikan padanya dengan baik. Namun, ia tidak memiliki daya jelajah tinggi dan kesempatannya sempit untuk bermain dalam gaya teater lain serta tokoh peran lain. Dalam kurun waktu tertentu di budaya tertentu, aktor seperti ini memiliki pesona luar biasa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan ketika kompetisi semakin tinggi, para pelaku teater meski meningkatkan daya kreativitasnya untuk tetap eksis. Dari kondisi inilah kemudian lahir berbagai macam bentuk, gaya, dan konsep pementasan teater yang kurang memberikan gerak leluasa bagi aktor tipikal.

 Di sisi lain, aktor-aktor tipikal yang biasanya berperan dalam teater konvensional ketika mau membuka pikiran, kemauan dan kesanggupan untuk kembali belajar akan terlahir sebagai aktor baru.  Dalam sejarahnya, banyak aktor modern yang muncul dari proses ini. Mereka memiliki kekhasan karena sudah sejak lama bergelut dengan teater konvensional. Mereka telah memiliki tradisi sendiri sehingga ketika pikirannya terbuka dan mau menerima hal baru maka vokabulari seni aktingnya pasti akan bertambah, demikian pula dengan pemahaman. Aktor teater konvensional memiliki kedalaman perasaan yang ia dapatkan dari proses panjang kerja pemeranan yang telah ia lakukan. Meski tokoh yang ia mainkan itu-itu saja namun berbagai perasaan atau emosi tokoh itu telah ia ekspresikan. Akhirnya ia memahami perasaan atau emosi tokoh bukan secara imanen namun melalui pengalaman langsung. Ketika pada akhirnya ia mau membuka pikirannya untuk menerima hal-hal baru termasuk yang bersifat kognitif, maka ia bisa menggunakan pengalamannya sebagai analogi. Aktor-aktor yang lahir dari proses atau perjalanan karir semacam ini biasanya memiliki kharisma, sesuatu yang sulit dijelaskan namun bisa dirasakan. Atas dasar kharisma ini pula orang sering menganggap bahwa seni peran (akting) tidak bisa dipelajari bagi orang yang tidak memiliki bakat. Satu pemikiran yang keliru karena kharisma didapatkan dari pengalaman belajar yang panjang dan intens tentang satu hal. Simpul-simpul pengalaman yang kemudian menubuh inilah yang memancarkan kharisma. Jadi kata kuncinya adalah belajar secara intens dan berterusan.

Proses kelahiran seorang aktor modern dari teater konvensional ini juga tidak bisa berlaku bagi semua aktor teater konvensional. Sebagian besar dari mereka sudah merasa mapan dengan apa yang dijalani selama ini. Baginya, tokoh tipikal yang ia perankan dalam kurun waktu lama telah menjadikannya sebagai ikon. Ia merasa bahwa ikon tersebut harus dipertahankan sebagai bagian tanggung jawab pokok seorang aktor profesional. Persis seperti seorang perupa yang mempertahankan gayanya dalam berkarya. Ya memang benar, ia telah menjadi dan menjalani dirinya sebagai aktor profesional. Namun, ia tidak luwes terlibat dalam produksi yang berbeda gaya dari teater yang ia lakoni selama ini. Tentu saja hal ini merupakan pilihan bagi aktor tersebut. Tetap bertahan dengan tokoh tipikal yang itu-itu saja atau membuka pikiran untuk kembali belajar dan berusaha sehingga bisa memiliki kesempatan lain yang lebih besar.

Selasa, 05 September 2017

SEMANGAT MUDA YANG BERANEKA DALAM PANGGUNG TEATER

Catatan Parade Teater Taman Budaya Jawa Timur 2017

Oleh: Eko Santosa
(Catatan pengamatan ini disampaikan kepada panitia Parade Teater Jawa Timur, Taman Budaya Jawa Timur)

Dua hari berada di Taman Budaya Jawa Timur dalam agenda Parade Teater Jawa Timur mulai tanggal 18 sampai dengan 19 Agustus 2017 mengapikan satu semangat tersendiri. Agenda yang menampilkan 6 kelompok teater yang sebagian besar adalah teater kampus seolah menyajikan lukisan penuh warna. Panggung menjadi arena kreatif talenta muda dalam mewujudkan gagasan artistiknya. Ada yang merasa nyaman untuk tampil, ada yang ragu, dan ada pula yang mencoba menohok meski masih menahan diri untuk sesuatu yang belum diketahui mengapa. Panggung teater menjadi area penuh energi muda dengan wajah-wajah yang seolah berada di antara garis keraguan, keangkuhan, keakuan, kepastian pilihan maupun kebebasan wisata jiwa. Semua menemu maknanya ketika sebagian besar penonton juga berada di garis yang sama. Dalam semalam 3  pementasan digelar dan itu lebih dari cukup bagi orang-orang yang datang menonton untuk sementara mengasingkan diri dari riuhnya realitas kehidupan sehari-hari. Malam pertama tampil Lakon B.O.R, Kekenceng Adalah Situs, dan Wek Wek. Sedangkan malam kedua menyajikan lakon Sarip Tambak Oso, Balada Perempuan, dan Brol. Berikut catatan pengamatan sederhana sebagai refleksi Parade Teater Jawa Timur.
B.O.R yang merupakan adaptasi karya Putu Wijaya dipentaskan oleh Teater Universitas Kanjuruan Malang. Pertunjukan dimulai dengan menampilkan dua orang duduk di ketinggian sisi kanan dan kiri yang dibatasi ruang berwarna hitam, sekaligus sebagai latar. Sementara dari kanan dan kiri panggung muncul kelompok orang yang masing-masing membawa lampu penerang (senter). Set panggung ditata secara simetris, pun demikian dengan pola blocking secara keseluruhan. B.O.R bercerita tentang kebobrokan pemerintah di satu negeri. Sang pemimpin mementingkan diri sendiri dan bertindak otoriter. Kondisi ini coba disajikan dengan hadirnya dua orang dalang yang duduk di ketinggian dan adegan ceramah seorang pemimpin yang memperkenalkan teknologi mutakhir komputer. Di dalam acara ini, suasana chaotic terjadi karena adanya para wartawan yang menyusup di tengah kerumunan untuk mendapatkan berita dan dijual. Sementara ada beberapa orang melakukan provokasi sehingga ketegangan tidak terkendali. Wakil pemerintah berusaha menyebar uang untuk membungkam para wartawan namun toh keadaan tidak terselamatkan sehingga perlu menumbalkan seseorang sebagai korban.

Kamis, 01 Desember 2016

Mempelajari Seni Budaya Untuk Memupuk Rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Oleh: Eko Santosa


Kebudayaan
Kebudayaan secara harfiah berasal dari bahasa Latin “cultura” hasil pembentukan dari kata “colere” yang berarti “mengolah”, “menanami”, atau “mempererat”, secara umum berkaitan dengan pola dan struktur simbolik yang menggambarkan aktivitas kegiatan manusia. Perbedaan definisi tentang budaya merefleksikan perbedaan pandangan teoritis secara mendasar atau kriteria penilaian dari kegiatan manusia tersebut. Secara general budaya merupakan keseluruhan produk intelejensi individual, kelompok  atau masyarakat. Di dalamnya termasuk; teknologi, seni, ilmu pengetahuan, sebagaimana halnya dengan sistem moral, karakteristik tingkah laku, serta perilaku kecerdasan lain yang tumbuh dan berkembang. (http://en.wikipedia.org/wiki/Culture).

Berdasar penjelasan di atas, definisi dan makna kebudayaan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda sesuai disiplin ilmu terkait.  Koentjaraningrat (1982:5) mengemukakan bahwa, kebudayaan merupakan perkembangan dari bentuk jamak budi daya, artinya daya dari budi, kekuatan dari akal. Secara lebih jelas kebudayaan dirumuskan sebagai, keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara seperti dikutip oleh Supartono (2004:31) menyebutkan bahwa kebudayaan adalah buah budi daya manusia sebagai hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan  bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. 

Theatre by Request: Pembelajaran Teater dan Nilai Kemanusiaan Melalui Peristiwa Teater



Oleh: Eko Santosa


Pendahuluan
Theatre by Request (TbR) adalah teater interaktif improvisasional yang diinisiasi oleh penulis pada tahun 2010. Sejarah kelahiran TbR bermula dari kebutuhan model dan metode pelatihan serta pementasan bagi peserta yang sifatnya tidak tetap. Yang dimaksud dengan peserta tidak tetap adalah peserta pada program tertentu dengan skala waktu tertentu atau peserta yang datang dan pergi. Hal ini terjadi karena TbR dilahirkan di Studio Teater yang berada di bawah naungan PPPPTK Seni dan Budaya Yogyakarta yang merupakan lembaga diklat bagi guru seni dan budaya di Indonesia. Selain itu, Studio Teater juga membuka pelatihan (selepas jam kantor) bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar teater sebagai bentuk dari penyebarluasan program pelatihan teater bagi masyarakat. Tugas utama Studio Teater ialah mengajarkan teater kepada setiap peserta pelatihan. Tujuan pengajaran kemudian tidak hanya teater an sich, namun juga nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya sebagai wujud pendidikan karakter. Pembelajaran pada akhirnya diharapkan tidak hanya kepada peserta pelatihan namun juga kepada penonton pada saat hasil pelatihan dipresentasikan.

Menurut pengalaman, membelajarkan teater dan nilai kemanusiaan dengan model drama (berbasis naskah) dirasa kurang tepat mengingat waktu yang tersedia bagi peserta tidaklah lama dalam satu program pembelajaran. Di samping itu peserta juga tidak berkehendak menjadi aktor profesional. Dari sisi lain, model drama tidak bisa mengakomodasi semua peserta menjadi pemain karena terikat dengan kebutuhan karakter sesuai naskah lakon yang ada. Hal ini mengakibatkan peserta lain hanya menjadi penonton yang bersifat pasif. Situasi dan kondisi semacam ini memunculkan berbagai pertanyaan dan atau masalah sebagai berikut.

  • Bagaimana menerapkan model atau metode pelatihan dan bentuk pementasan yang tepat bagi peserta pelatihan yang sifatnya datang dan pergi? 
  • Bagaimana menciptakan pementasan bagi orang-orang yang ingin berteater namun tidak mau terikat secara profesional, dalam artian teater hanya sebagai hobby atau pengisi waktu di luar kepenatan persoalan sosial yang ada? 
  • Bagaimana membuat penonton teater tidak berada dalam kondisi pasif dalam artian hanya menerima jejalan kode artistik yang belum tentu dipahami namun dipaksa untuk datang, melihat, dan mengapresiasi? 
  • Bagaimana menghadirkan peristiwa atau pementasan teater yang dapat dijadikan pembelajaran mengenai teater dan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya baik bagi pemain maupun penonton?

Atas dasar persoalan di atas, perlu kiranya dibuat konsep pertunjukan atau pementasan teater yang mencakup pokok-pokok pikiran sebagai berikut.
  • Teater sebagi media pembelajaran teater dan nilai kemanusiaan yang ada di sebalik teater. Jadi bukan soal estetika teater yang dikedepankan melainkan keberfungsian teater sebagai media pembelajaran. 
  • Teater bisa dimainkan oleh siapa saja bahkan yang bukan aktor sekalipun namun memiliki keinginan untuk merasakan pengalaman berteater sehingga bukan olah keterampilan akting yang dipentingkan melainkan kemauan untuk belajar bersama. 
  • Teater yang dipentaskan harus bersifat improvisasional dan mampu melibatkan penonton untuk bersama-sama belajar.
Dari pokok-pokok pikiran ini diharapkan pada nantinya pertunjukan teater yang digelar bisa berubah menjadi peristiwa pembelajaran bersama bagi semua yang hadir.

Minggu, 04 September 2016

Mencipta Teater Sederhana Dengan Theater Games



Oleh: Eko Santosa


A.    Pendahuluan
Umumnya, proses penciptaan teater di sekolah menggunakan konsep teater dramatik berbasis naskah. Konsep ini mengharuskan semua yang terlibat untuk bekerja sesuai arahan lakon yang telah ditentukan. Sutradara merancang konsep laku lakon mulai dari para pemain hingga tata artistiknya. Para pemain diharuskan mampu mengelola tubuh, suara, dan jiwanya dalam memainkan sebuah peran sesuai dengan karakte. Para penata artistik pun demikian, mencoa mewujudkan seluruh elemen pendukung itu sesuai dengan arahan lakon. Proses perwujudan dari lakon ke dalam sebuah pertunjukan dengan demikian memerlukan waktu yang tidaklah sebentar.
Sementara itu di sisi lain, waktu yang tersedia bagi proses teater di sekolah biasanya sangatlah terbatas. Oleh karena itu diperlukan sebuah pendekatan lain yang dapat dikerjakan dengan cara yang lebih rileks namun mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam pembahasan ini pendekatan yang coba diungkapkan adalah theater game.
Theatre game pertama kali digunakan oleh Viola Spolin pada tahun 1946 untuk melatih para aktor muda di Hollywood. Model pelatihannya adalah teater improvisasi di mana pemain teater dilatih untuk melakukan potongan-potongan adegan secara improvisatoris dengan maksud dan tujuan tertentu. Theatre games secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran seni teater melalui permainan. Permainan yang diciptakan dapat digunakan untuk mempelajari bidang-bidang dalam teater baik secara mandiri atau terintegrasi. Theatre games mengajarkan sesuatu secara tidak langsung melalui sebuah permainan sehingga tanpa disadari, siswa sedang atau telah mempelajari sesuatu dalam permainan tersebut. Karena sifatnya yang tidak langsung pada tujuan maka game dapat mengajarkan hal-hal lain di sebalik teater (beyond the theater), yang mendukung proses berteater.
Metode yang ditawarkan oleh Spolin bukanlah satu-satunya metode pembelajaran teater di sekolah. Namun, keberadaan theatre games mampu menyegarkan pandangan akan bentuk dan model pelatihan teater. Bahkan John Caird (2010) menyarankan para sutradara untuk menggunakannya dalam sesi awal pelatihan teater profesional ketika para pemain baru pertama kali berkumpul dan butuh sosialisasi. Keluwesan model theatre games baik dari jenis permainan maupun pelaksanaannya memungkinkan untuk diaplikasikan di sekolah. Terlebih, ketika nilai-nilai pribadi, sosial, dan budaya dapat dengan mudah diimplementasikan di dalamnya.

Manajemen Produksi Pertunjukan - Studi Kasus: Pementasan



Oleh: Eko Santosa

Salah satu faktor pendukung yang sangat penting dalam proses penciptaan teater adalah manajemen. Dalam teater bahasan manajemen dibagi menjadi dua yaitu menejemen kelompok atau sanggar dan manajemen produksi. Akan tetapi dalam bahasan ini yang akan dibicarakan adalah manajemen pementasan yang merupakan bagian dari manajemen produksi. Manajemen pementasan dipilih sebagai batasan karena yang difokuskan dalam hal ini adalah persoalan pementasan teater.

Manajemen adalah pengelolaan atau kegiatan mengelola. Menurut Riantiarno (2003) manajemen teater adalah perencanaan sebuah produksi teater hingga sampai ke tangan konsumen (penonton). Tahapan kegiatan manajemen adalah perencanaan, produksi, pementasan, serta pemasaran. Dalam konteks ini manajemen pementasan adalah pengelolaan pementasan teater mulai dari persiapan pementasan, penonton datang ke gedung pertunjukan, menyaksikan jalannya pertunjukan hingga sampai pertunjukan usai dan penonton kembali pulang. Dalam manajemen pementasan ada 2 bidang utama pekerjaan yaitu pengelolaan gedung (house managing) dan pengelolaan panggung (stage managing).